Ibadah Ramadan di Lapas Perempuan Kupang Dijalani WBP dengan Tarawih Berjamaah dan Tadarus Al-Quran

Jumat, 20 Februari 2026 | 11:40:35 WIB
Ibadah Ramadan di Lapas Perempuan Kupang Dijalani WBP dengan Tarawih Berjamaah dan Tadarus Al-Quran

JAKARTA - Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang beragama Islam di Lapas Perempuan Kelas IIB Kupang mulai mengisi bulan suci Ramadan 1447 Hijriah dengan kegiatan keagamaan yang dipimpin secara teratur di Masjid Annisa Lapas. Para WBP melakukan ibadah Salat Tarawih berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan tadarus Al-Quran. Kegiatan ini dijalankan sebagai bentuk syukur dan sebagai bagian dari pembinaan spiritual selama menjalani masa pidana.

Pelaksanaan ibadah salat dan tadarus di lingkungan lapas ini mencerminkan upaya untuk menjaga nilai-nilai religius di tengah keterbatasan ruang dan kebebasan yang dimiliki para warga binaan. Salat tarawih menjadi momentum penting yang membawa mereka ikut menikmati suasana Ramadan secara bersama.

Pemenuhan Hak Ibadah dan Pembinaan Kerohanian

Menurut Dewi Andriani, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIB Kupang, kegiatan salat tarawih berjamaah itu merupakan bagian dari pemenuhan hak beribadah warga binaan. Program tersebut sejalan dengan tujuan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, dalam mendorong hak beribadah dan pembinaan kerohanian bagi para narapidana melalui Program Akselerasi.

Dewi menyatakan bahwa Ramadan menjadi saat yang tepat untuk refleksi diri, memperbaiki perilaku, dan memperkuat komitmen spiritual. “Ramadhan adalah momentum refleksi diri yang sangat baik untuk membangun kesadaran spiritual, memperbaiki perilaku, dan memperkuat komitmen menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Dewi.

Kegiatan seperti salat tarawih dan tadarus bukan hanya semata ibadah formal, melainkan juga bagian penting dari proses pembinaan karakter yang terus diperkuat di masa Ramadan. Melalui ibadah berjamaah tersebut, para warga binaan dilatih untuk hidup disiplin, bersatu dalam kebersamaan, dan mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi.

Nilai Ibadah dalam Kehidupan Narapidana

Salat tarawih merupakan amalan sunnah yang dianjurkan kuat dalam Islam di bulan Ramadan, menjadikan malam Ramadan lebih bermakna melalui penguatan spiritual di samping ibadah puasa yang dijalani sepanjang hari. Ibadah ini membuka ruang bagi umat Islam, termasuk warga binaan di lapas, untuk semakin mendekatkan diri kepada ajaran Islam.

Usai salat tarawih, para warga binaan bersama-sama membaca ayat-ayat suci Al-Quran dalam kegiatan tadarus. Pembacaan Al-Quran secara bergantian ini menambah kekhusyukan suasana malam di dalam lapas dan memperlihatkan betapa kuatnya semangat keagamaan yang dijaga para narapidana di tengah berbagai keterbatasan.

Lebih dari sekadar aktivitas religius, kegiatan tadarus di malam Ramadan menjadi sarana edukatif yang membantu warga binaan, khususnya yang lebih muda, memahami dan menghayati isi Al-Quran secara langsung. Hal ini dapat membantu mereka dalam proses pembinaan karakter sehingga menjadi pribadi lebih baik saat kembali ke masyarakat kelak.

Menjadi Momentum Mempererat Kebersamaan

Kegiatan tarawih berjamaah dan tadarus bersama di dalam lapas memperlihatkan bahwa Ramadan bisa menjadi peluang bagi warga binaan untuk mempererat kebersamaan di antara sesama. Salat berjamaah di masjid atau mushala, baik di lapas maupun di luar, turut menciptakan rasa persaudaraan serta kedisiplinan dalam lingkungan umat Islam yang menjalankan ibadah Ramadan.

Ibadah tarawih dan tadarus yang dijalankan di Lapas Perempuan Kupang ini juga sejalan dengan pelaksanaan serupa di berbagai wilayah lain di Indonesia selama Ramadan. Misalnya, masjid-masjid di daerah lain menggelar tarawih berjamaah yang khidmat, mempertebal semangat keagamaan bagi masyarakat luas di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah dan kebersamaan.

Harapan di Bulan Penuh Berkah

Kegiatan keagamaan di lapas ini diharapkan mampu menjadi titik awal bagi perubahan positif dalam diri para warga binaan. Ramadan dikenal sebagai bulan penuh ampunan, rahmat, dan kesempatan untuk memperbaiki diri melalui puasa, salat tarawih, dan tadarus. Hal-hal ini bukan hanya memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga menjadi sarana pembinaan yang berpadu dengan tujuan reintegrasi narapidana ke masyarakat kelak.

Selain bagi warga binaan, Ramadan juga menjadi momentum bagi petugas lapas dan masyarakat luas untuk saling mendukung lingkungan yang lebih kondusif, bersemangat dalam ibadah, dan menjunjung tinggi nilai-nilai humanis serta spiritual. Dengan demikian, Ramadan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga ekspresi nyata semangat keagamaan yang bisa menyentuh kehidupan berbagai lapisan masyarakat.

Dengan penyelenggaraan ibadah yang teratur dan penuh kekhusyukan, Ramadan di Lapas Perempuan Kupang menjadi cerminan semangat untuk terus memperbaiki kualitas spiritual dan karakter, sekaligus sebagai wujud nyata bahwa ibadah tetap dapat dijalankan di manapun dan dalam kondisi apapun.

Terkini